Magnet Rezeki – KENAPA HARUS MEMAAFKAN?

KENAPA HARUS MEMAAFKAN?

Akhir2 ini, beredar ajakan agar umat Islam melawan. Agar keras terhadap kemaksiatan. Agar menegakkan nahi mungkar. Perda Islami yg dicopot, ada baju salib pada tayangan ramadhan, buka warung di siang hari ramadhan, dan diliput berbagai media, seakan melecehkan nilai Ramadhan. Umat Islam harus melawan.

Ini saran bener banget. Agar umat Islam juga punya izzah, punya kemuliaan di hadapan umat yg lain. Para sahabat ketika ada seorang wanita shohabiyah yg jilbabnya dilepas, besoknya terjadi perang terhadap Yahudi. Ya, kita memang mesti keras terhadap kezaliman dan kemaksiatan.

Sy mencoba merenung ke diri saya sendiri, “cara itu mmg sudah baik, tapi adakah cara yg lebih baik? Adakah cara yang lebih enak di dengar oleh semua orang? Adakah cara yg lebih rahmatan lil ‘alamiin, bukan sekedar rahmatan lil muslimiin? Bagaimana sikap nabi Saw jika menghadapi situasi sprt ini?” Begitu pertanyaan batin saya.

Tidak mudah memang menghadapi sesuatu yg kita tidak suka. Dan bawaannya memang ingin marah dan rasanya itu adalah sikap yang benar.

Tapi sy coba fikirkan ttg keadaan ini.

Ada seorang ayah yg ditelpon polres dan mengabarkan bahwa anaknya ditangkap karena mengkonsumsi narkoba, bahkan jadi pengedar dan bahkan sudah jadi gembong narkoba.

Ada 2 tipe ayah yg menghadapi masalah seperti ini. Ayah A dan ayah B.

Ayah A datang dgn mata melotot, murka semurka-murkanya. Ketika sampai di hadapannya, sang anak ditampar dgn keras “bikin malu keluarga” “dasar anak durhaka” dan kata2 sebangsanya.

Sang ayah benar sih… Ya memang pakai dalil apapun sang ayah benar. Itu anak sdh maksiat, melawan hukum agama, melawan hukum negara dan sang ayah berhak melakukan itu, krn ada hadits yg menyebutkan, “jika melihat kemungkaran, hendaknya dicegah dengan tangan” dan sang ayah memenuhi syarat ini.

Tapi, coba kita tebak, apa respon sang anak. Sepertinya sang anak akan mengatakan demikian “hey siapa kamu? bapak macam apa kamu? Pergi jauh ga pernah pulang, malah asyik sama selingkuhan, pulang2 hanya tampar mama sana sini.., datang ke polres hanya nampar saya… Jangan ngaku2 sbg ayah saya. Biar saya mati karena narkoba krn ga ada yg juga peduli sama hidup saya”

Kemarahan dibalas kemarahan. Sang ayah benar sih, tapi kenapa situasinya jadi makin ga menentu ya?

Tapi ada ayah type B. Yg ketika hadir di polres langsung minta maaf sama sang anak… Padahal dia benar. “Maafkan ayah nak.. Ayah selama ini tidak jadi ayah yg benar utk kamu dan keluarga. Ayah menyesal… Ayah yg salah… Ini semua salah saya… Maafkan ayah nak…”

Kira2 apa yg akan diucapkan sang anak? Rasanya sang anak malah akan luluh, dan jika hidayah Allah mmg pantas utk anak itu, dia akan bertaubat.

****

Terkadang, hukum benar-salah perlu ditempatkan di konteks yang sangat hati2. Kebenaran saat ditempatkan di situasi yg tidak tepat sprt ilustrasi di atas, malah akan mengundang “kebenaran” versi lain muncul. Dan masalah tidak selesai.

Mengaku salah seperti ayah B mmg tidak mudah. Wong sang ayah di situasi tersebut memang dlm kondisi benar. Koq malah ngaku salah…

Lalu, saya berfikir, “Rasanya Islam datang utk memperbaiki keadaan deh… dan bukan sekedar menegakkan kebenaran”

****

Trus gmn dong posisi umat Islam yg seharusnya? Apakah memaafkan perda Islami yg dihapuskan? Apakah harus memaafkan baju salib pada tayangan ramadhan? Apakah memaafkan org yg melecehkan Ramadhan?

Lalu, saya ingat ayat ini :

“Dengan sebab rahmat Allah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka, sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentu mereka menjauh dari sekelilingmu,

Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu

Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang yang bertawakkal kepada-Nya” (qs 3:159)

Sikap lemah lembut apakah yg harus ditunjukkan umat Islam saat Ramadhan sprt ini? Atau mmg ini ujian Ramadhan?

Ataukah harus memaafkan mereka sebagaimana perintah Allah? Lalu bermusyawarah di tingkat perwakilan rakyat (DPR)? Lalu serahkan saja semua masalah kepada Allah dengan tawakkal dan sholat?

****

Wallahu a’lam saya pasti salah… Fikiran saya pasti tidak tepat… Saya perlu belajar dengan sangat keras… Ilmu saya belum sampai dlm memahami fenomena umat…

Maka saya hanya bisa sholat hajat atas kondisi umat Islam. Smg Allah muliakan Islam dan menjadi rahmat bagi semesta Alam.

Top
%d blogger menyukai ini: