Home » manajemen » Konsep Diri dan Pengembangannya

Konsep Diri dan Pengembangannya

Mar
29
2008
by : mdianapriyanto . Posted in : manajemen
          diri Tentunya Anda semua ingin menjadi diri yang “khas”. Setiap orang mendambakannya. Itu biasa dan sangat normal. Tetapi ternyata Anda telah menjadi “khas”, “khusus”! Anda adalah manusia yang unik. Dari sekian banyak manusia, Anda adalah “istimewa”. Tak seorangpun didunia ini pernah dan akan persis sama seperti Anda. Anda tidak ada duanya.

            Tetapi Anda belum sempurna. Anda sedang dan masih harus berkembang. Anda masih berada didalam proses menjadi semakin “khas”, “khusus”, “istimewa”. Setiap Anda memiliki potensi yang luar biasa, tetapi jarang diantara Anda yang dapat mengembangkan dan sampai mengaktualisasikan dalam kehidupannya, “Kebanyakan orang hanya menggunakan sebagian kecil dari kemampuannya” begitulah kesimpulan William James melalui penelitian-penelitiannya. Padahal Allah SWT telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sangat sempurna.(Al Qur-an) Anda akan semakin menjadi diri Anda, orang yang “khas” itu, kalau Anda mengembangkan dan membina segala yang baik yang ada pada Anda dan mengalahkan yang kurang/tidak baik. Ini berlaku untuk kemampuan jasmani, intelektual, keterampilan dan spiritual. “Modal” (potensi) yang terpendam dalam diri Anda ini perlu kita sadari dan aktifkan. Inilah suatu proses yang tak pernah akan selesai. Sampai hari Anda meninggalkan dunia ini, Anda masih dapat berkembang menjadi lebih sesuai dengan ideal Anda.

            Sebagai anak, Anda mulai mengaktualisasikan potensi-potensi Anda dibawah bimbingan orang dewasa. Anda belajar banyak hal; melangkah, berbicara, menghitung, berdoa….Semakin dewasa, semakin banyak segi kepribadian Anda yang kita temukan. Anda mencari, memperoleh, berlatih dan belajar. Anda berubah terus menjadi lebih sempurna atau lebih buruk. Berhenti tidak mungkin. Kalau tindakan-tindakan Anda mengarahkan Anda kepada yang baik (kujujuran, tanggung jawab, kasih sayang, dll), Anda berkembang maju sebagai manusia. Hidup Anda lebih berarti, lebih memuaskan, lebih tenang karena mendapat pegangan.

            Sebenarnya, Anda berdaya untuk meningkatkan taraf perkembangan kepribadian Anda masing-masing. Hal-hal yang yang membantu perkembangan itu ada disekitar Anda dan ada pada diri Anda sendiri, manfaatkanlah! Anda dapat menjadikan diri Anda “penuh”, yang paling baik dan yang unik. Anda bukan orang lain. Anda bukan tiruan manusia lain. Tetapi Anda adalah Anda.

            Oleh karena itu biarkanlah diri Anda berkembang sekarang ini juga. Sebab waktu kini adalah kesempatan yang tak bakal terulang kembali, Anda hanya memiliki satu kehidupan. Waktunya terlalu pendek. Hari kemarin sudah berlalu. Hidup adalah hari ini, dan mengarah ke hari esok.

 

Jadilah diri yang khusus dengan membiarkan diri Anda berkembang.

Mulailah sekarang ini juga!

 

Darimana Harus Memulai?

            Anda harus memulainya dengan terlebih dahula mengidentifikasi siapa Anda pada saat ini? Mengidentifikasi siapa Anda pada saat ini itulah yang dikenal dengan Konsep Diri. Mengenal diri Anda sendiri sesungguhnya adalah sebuah kewajiban dari Allah SWT (Al Hasyr:18). Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang mengenal dirinya maka ia akan mengenal Robb-nya”. Dalam hadits ini Rasulullah mengisyaratkan bahwa pengenalan seorang hamba terhadap Robbnya berbanding lurus dengan pengenalan hamba tersebut dengan dirinya sendiri.

 
Konsep Diri.

            Konsep diri adalah pandangan dan perasaan kita tentang diri kita menyangkut psikologis, sosial, dan fisik (William D Brooks). Atau menurut ahli yang lain (Anita Taylor) bahwa konsep diri adalah semua yang Anda pikirkan dan rasakan tentang diri Anda, menyangkut keyakinan dan bakat/kemampuan.

            Dari definisi diatas dapat kita pahami bahwa ada dua jalan yang harus diperhatikan ketika kita mencoba mengenal diri kita, yaitu melalui kognitif (intelektual) dan  afektif (perasaan). Melalui kognitif artinya kita mengenal diri kita dengan kesadaran penuh kognitif kita, tanpa harus dipengaruhi faktor-faktor eksternal. Sedangkan melalui afektif artinya kita mengenali diri kita berdasarkan emosi-emosi kita yang tentunya disingkronkan dengan sudut pandang kognitif kita tadi.

            Dalam memahami konsep diri kita, kadangkala kita memiliki hambatan yang sangat mengganggu jalannya proses pengenalan diri. Paling tidak ada tiga hambatan:

1.      Penjara genetis. Kita memahami diri kita sesuai dengan apa yang kita bawa sejak lahir. Padahal faktor genetis adalah faktor yang mengambil bagian  kecil dari pembentukan kepribadian kita.

2.      Penjara Lingkungan. Kita memahami diri kita berdasarkan lingkungan yang memberikan stigma pada diri kita. Stigma inilah yang akhirnya mempengaruhi pencitraan kita terhadap diri kita.

3.      Penjara Pengasuhan. Kita memahami diri kita berdasarkan nilai-nilai, budaya-budaya yang ditanamkan oleh kedua orang tua kita. Padahal tidak semua nilai-nilai dan budaya-budaya itu sesuai dengan kepribadian kita.

Dengan demikian untuk suksesnya kita mengenal konsep diri kita maka kita harus melepaskan penjara-penjara itu, sehingga kita menjadi manusia yang mandiri, proaktif dan berfikir “here and now” sehingga kita bisa lebih obyektif memandang kita hari ini apa adanya kita.

Tingkatan Konsep Diri.

            Konsep diri sesungguhnya memiliki tingkatan:

1.      Konsep Diri Aku Diri. Artinya kita melihat diri menurut sudutpandang kita sendiri. Atau dengan kata lain “Aku menurut Aku”.

2.      Konsep Diri Sosial. Artinya kita melihat diri menurut sudutpandang orang lain disekitar kita tentang kita. Atau dengan kata lain “Aku menurut orang lain”.

3.      Konsep Diri Ideal. Artinya kita melihat diri menurut sudutpandang apa yang kita inginkan. Atau dengan kata lain “Aku menurut yang Aku Inginkan”.

 

Perpaduan, irisan dari ketiga tingkatan konsep diri inilah yang menggambarkan siapa kita sesungguhnya pada saat ini. Jadi ketika ketiga tingkatan ini irisannya semakin besar dan sama besar wilayahnya maka semakin sehat konsep dirinya.

 

Manfaat Mengenal Diri.

 

1.      Mengenal motif-motif potensial yang menggerakkan hidupnya.

2.      Mengenal persepsi-persepsi dan pemikiran yang paling dalam.

3.      Akan dekat dengan bahasa hati sumber kebenaran (fitrah diri).

4.      Dengan kebenaran sejati maka dia akan dapat mengembangkan dirinya.

5.      Dia akan mengenal lingkungannya dan dapat mengenal peluang dan tantangan.

 

Konsep Diri Penyusur Surga.

 

1.      Falsafah hidup.

§         Hidup adalah proses jual beli.

2.      Visi Hidup.

§         Ridho Allah SWT.

§         Setiap amal Anda bukan karena yang lain atau kepatuhan yang dipaksakan.

3.      Misi Hidup.

§         Ibadah, penghambaan, memuliakan Islam dan ummat Islam (‘izzul Islam wal muslimin), kebahagiaan.

4.      Strategi Hidup.

§         Amal soleh, ibadah karena Allah, tidak syirik, banyak berzikir.

5.      Kredo, jargon hidup.

§         Hidup mulia atau mati syahid.

§         Hidup adalah perjuangan.

§         Life is learning process…dll.

6.      Program hidup.

§         Perspektif waktu dan frekwensi.

 

Aspek Yang Mempengaruhi Konsep Diri.

 

Sebenarnya kehidupan Anda pada saat ini dipengaruhi oleh tiga hal: kehidupan masa lalu Anda, Anda apa adanya sekarang, dan mimpi/imajinasi Anda tentang Anda dimasa depan (sampai akhirat).

 

1. Masa Lalu Anda.

Anda pada hari ini tidak lepas dari proses pembelajaran Anda dimasa lalu. Bimbingan orang tua, proses pembelajaran Anda dalam hidup, pengalaman kehidupan yang sudah lalu, semua itulah yang menjadikan “Anda” hari ini. Baik-buruk, suka-duka, senang-susah, sedih-gembira dimasa lalu Anda (bahkan sejak masa kanak-kanak) memberikan sumbangan pada Anda sampai hari ini. Mungkin Anda dapat sedikit memetik hikmah dari untaian kata-kata dari Dorothy Law Nolte:

 

 

Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki

Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi

Jika anak dibesarkan dengan cemoohan , ia belajar rendah diri

Jika anak dibesarkan dengan hinaan, ia belajar menyesali diri

Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri

Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri

Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai

Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baik perlakuan, ia belajar keadilan

Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan

Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi dirinya

Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan arti hidup dalam kehidupan

 

Dengan cara manakah Anda dibesarkan dan hidup? Tapi apakah akhirnya kehidupan Anda saat ini dibentuk oleh kehidupan masa lalu Anda?  Tidak!

 

Anda tidak dapat tergantung/dibentuk oleh masa lalu Anda. Anda harus mempersepsikan masa lalu Anda secara positif dan proporsional. Instropeksi (Muhasabah), perenungan positif adalah sebuah motode bagi Anda untuk merubah pengalaman masa lalu Anda menjadi energi positif . Umar bin Khatab memiliki masa lalu yang sangat suram, tetapi ia dapat menjadikan masa lalunya sebagai unsur perubah sehingga ia menjadi orang yang dimuliakan oleh Allah dan Rasul-Nya. Umar ra dapat merubah pengalaman masa lalunya menjadi energi positif untuk mencapai mardhotillah. Begitu juga dengan Khalid bin walid serta Bilal bin Rabah. Bagaimana dengan Anda?

“Meskipun kita dapat dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman kanak-kanak yang malang, namun kita bukanlah korban-korban tetap dari pengalaman-pengalaman ini, kita dapat berubah, bertumbuh, dan mencapai tingkat-tingkat  kesehatan psikologis yang tinggi (Abraham Maslow).

 

2. Masa Kini.

            Masa kini, kondisi Anda saat ini, Anda hari ini apa adanya adalah merupakan akumulasi pencapaian aktualisasi diri dari potensi-potensi Anda, tapi ingat, “Kebanyakan orang hanya menggunakan sebagian kecil dari kemampuannya” (Wiliiam James, filsuf dan psikolg asal USA), Artinya Anda saat ini hanyalah baru sebagian kecil dari seharusnya Anda “menjadi”. Masih banyak potensi-potensi dalam diri Anda yang belum terbina, terbangun dan teraktualisasi dalam sekian lama kehidupan Anda. Pada saat ini Anda kembali mencoba mengidentifikasi potensi-potensi Anda yang sudah teraktualisasi dan yang belum, baik dari segi fisik, emosi, sikap, intelektual dan lainnya lagi. Inventarisasi semua hal itu dengan metode perenungan, instropeksi individual, kemudian mintalah pendapat orang lain, sahabat, orangtua, teman kerja atau lainnya untuk membantu Anda untuk mengenali potensi apa saja yang sudah dan belum teraktualisasi.

            Identifikasi dan inventarisasi itu merupakan database Anda untuk mulai merencanakan pengembangan diri. Database tersebut dapat memberikan informasi kepada Anda potensi-potensi apa yang harus Anda rencanakan untuk mengaktualisasikannya, dan juga bagaimana potensi-potensi yang sudah teraktualisasi dapat dipertahankan dan ditingkatkan kwalitasnnya.

3. Masa Depan.

            Masa depan adalah sebuah mimpi/imajinasi Anda untuk menjadi “apa”. Apa yang ada dalam benak dan fikiran Anda tentang masa depan Anda? Menjadi orang sukseskah? Menjadi orang bahagiakah? Prinsip dan imajinasi Anda yang menentukan! “Kehidupan Anda ditentukan oleh Pikiran Anda” (Muhammad Al Ghazali). Namun dalam imajinasi Anda tentang masa depan Anda ada perbedaan orang yang religius dan yang tidak. Orang yang religius memandang bahwa masa depannya bukan hanya pada tahap hidup didunia, tetapi ada hal yang lebih penting lagi adalah masa depan akhirat. Sehingga cobalah  latih imajinasi Anda untuk memikirkan bagaimana keadaan akhir kita kelak diakhirat bahagiakah atau tersiksa?

 

Bingkai dengan Emosi Positif.

            “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui” (Al qur-an). Apa yang Anda rasakan ketika membaca ayat ini? Mungkin Anda akan merasakan nuansa optimisme dalam diri Anda, karena ayat ini mengajarkan Anda untuk selalu mengembangkan emosi positif Anda tentang segala hal yang terjadi dalam kehidupan Anda.

            Bingkailah kehidupan masa lalu, masa kini dan masa depan Anda dengan emosi positif. Pandanglah setiap kejadian-kejadian masa lalu sebagai hal terbaik untuk meraih yang lebih baik. Jadikanlah kondisi kehidupan Anda saat ini menurut Anda atau menurut orang lain sebagai sebuah cermin bagi Anda untuk melangkah menjadi lebih baik. Dan raihlah masa depan Anda yang telah Anda cita-citakan dalam imajinasi Anda.

 

Bingkai dengan Nilai

            Setelah Anda tahu tentang siapa Anda? Apakah itu sudah cukup? Belum! Karena persepsi Anda tentang Anda ditentukan oleh Anda sendiri dan oleh teman-teman Anda sesama manusia. Anda tidak obyektif, karena manusia tidak ada yang obyektif hanya Allah SWT yang obyektif. Karena Anda adalah makhluq yang diciptakan Allah SWT, maka Anda sebaiknya menanyakan pada Sang Pencipta gambaran-Nya tentang Anda. Sebab Ia menciptakan Anda masing-masing secara unik, artinya dengan bakat, kemampuan, tenaga dan ideal-ideal tersendiri. Dengan menemukan gambaran Allah tentang anda, Anda temukan ideal Anda, makna hidup Anda, tujuan seluruh keberadaan Anda didunia ini. Anda akan terarah. Inilah nilai yang dapat dengan jernih mempersepsikan secara positif, kehidupan masa lalu, masa kini dan masa depan Anda. Nilai inilah yang menentukan akan menjadi apa Anda kelak dan bagaimana akhirnya.

 

Sasaran Pengembangan Diri.

            Proses pengembangan diri adalah sebuah proses yang terus-menerus dan integral  ,utuh serta bertahap. Proses pengembangan diri meliputi empat unsur dalam aspek kepribadian manusia: Aspek Spiritual, Moral (Truee), Aspek Emosional (Responsible),  Aspek Intelektual (Unique), dan Aspek Fisik (Sacrifice).

 1.      Aspek Spiritual.

Meliputi: I   Iman, Taqwa, Ibadah, Niat, Sopan, Ramah, Siap berkurban, Totalitas, Tepat waktu, Menghormati/menghargai orang lain, Bersih dan berwibawa, Kejujuran, Tegas, Keaslian, Kesetiaan, Ketaatan, Kebenaran, dll.

 

2.      Aspek Emosional.

Meliputi: Tanggung jawab, Membantu orang lain, Ingin maju, Rasa ikut memiliki, Mawas diri, Proaktif, Mandiri, Berfikir positif, Inisiatif, Sumbangan kepada semangat kelompok, Hubungan masyarakat, Kepercayaan pada diri sendiri, Kerjasama, Fleksibelitas, Pengambilan resiko, Kemampuan memotivasi bawahan, Keuletan, Kerja keras, Integritas, Empati, Ketegasan, Perhatian terhadap orang lain, dll.

 

3.      Aspek Intelektual.

Meliputi: Terampil, Trengginas, Merencanakan, Mengorganisasi, Mengkoordinasi, Mensupervisi, Kepemimpinan, dinamika, Kepandaian mencari akal, Kreativitas dan Daya akal, Pengembangan para bawahan, Kemampuan analitis (nalar, logika), Pendelegasian, Pengambilan keputusan, Menyelesaikan masalah,Manajemen konflik, Kemampuan komunikasi (lisan, tulisan), Pengaturan data, Dapat belajar dengan cepat, Dapat mengakses informasi dengan cepat, Mudah mempelajari ilmu baru, dll.

 

4.      Aspek Fisik.

Meliputi: Dapat melakukan hajat hidup dengan fisik, Sehat, Tidak cacat karena kecelakaan, Tidak sakit akut atau kronis, Olah raga, Pola makan yang baik, Tinggi badan dan berat badan yang seimbang, Memiliki tenaga yang kuat, Tidak melakukan kebiasaan yang merusak fisik, Merasakan nafas lega, dll.

 

Prinsip-Prinsip Pengembangan Diri.

 1.      Prinsip Keterarahan.

Setiap aktivitas pengembangan diri, harus memiliki arah yang jelas yang terdefinisikan dengan tujuan akhir dari pengembangan diri tersebut. Parameter hasil yang kongkrit. Karena sebuah usaha pengembangan diri, tetapi tanpa target, tujuan yang jelas, maka usaha pengembangan diri tidaklah efektif dan maksimal.


2.     
Prinsip Perencanaan.

Aktivitas pengembangan diri merupakan suatu aktivitas yang terencana, bukan sambilan atau insidental. Ia merupakan bagian dari agenda kehidupan kita. Perncanaan pengembangan diri meliputi, target-target waktu, jadwal aktivitas dan evaluasi.


3.     
Prinsip Kesinambungan.

Aktivitas pengembangan diri merupakan aktivitas yang terus-menerus dan tidak berhenti sampai akhir kehidupan kita. Aktivitas pengembangan diri sesungguhnya kehidupan itu sendiri, “Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, Hari esok lebih baik dari hari ini” (Hikmah).


4.     
Prinsip Keteraturan.

Aktivitas pengembangan diri harus teratur, punya alur yang jelas aspek mana yang akan dikembangkan terlebih dahulu kemudian aspek lainnya menyusul, atau bisa juga secara simultan namun tetap harus merujuk pada prinsip keteraturan. Hal ini untuk mencegah terrjadinya aktivitas yang berlebih-lebihan.

 5.      Prinsip Kebertahapan.

Aktivitas pengembangan diri merupakan sebuah aktivitas yang bertahap dan berproses sesuai dengan karakter  fitrah manusia itu sendiri yang berproses baik secara fisik ataupun psikologis. Terdapat hubungan keterkaitan antara satu tahap dengan tahap yang lainnya  

 
6.      Prinsip Latihan dan Tindakan.

Aktivitas pengembangan diri merupakan aktvitas “Learning by Doing” atau “Experience Learning”. Artinya tujuan dari pengembangan diri tidak akan tercapai apabila kita tidak melakukan latihan-latihan dan tindakan-tindakan yang dibutuhkan dalam proses pengembangan diri.

 
7.      Prinsip Optimisme Religius.

Aktivitas pengembangan diri merupakan aktivitas ikhtiar manusia untuk berubah menjadi lebih baik (Al Qur-an 13:11), sedangkan keberhasilan ikhtiar manusia bukan hanya ditentukan oleh ikhtiar itu sendiri, tatapi faktor “Kehendak Ilhiyah” (kehendak AllahSWT) memegang peranan penting dalam keberhasilan tujuan pengembangan diri. Oleh sebab itu faktor do’a (pengharapan kepada Allah SWT) merupakan prinsip yang sangat penting namun sering dilupakan orang. “Faidza ‘azzamta fatawaqqallah” (“Bertekadlah engkau kemudian bertawakal”).

 

Treatment Pengembangan Diri.

 

Treatment dilaksanakan dengan bersandar pada prinsip-prinsip pengembangan diri diatas. Treatment lebih merupakan sebuah siklus (kesinambungan) yang tidak berhenti. Siklus tersebut adalah:

1.      Perenungan.

Perenungan merupakan sebuah tahap untuk melihat diri pribadi kita dalam kesadaran yang hakiki, kesadaran spiritual, kesadaran emosional, kesadaran intelektual dan kesadaran fisik.

2.      Insight.

Hasil perenungan dengan kesadaran hakiki itulah yang akan menimbulkan sebuah pemahaman baru (insight) yang lebih positif dan lebih baik arahnya.

3.      Motivasi.

Dengan pemahaman baru, maka akan muncul sebuah nuansa motivasi untuk berubah dan berbuat.

4.      Latihan dan Tindakan

Motivasi merupakan sebuah kecenderungan tindakan yang nantinya akan menjadi sebuah tindakan yang nyata, tindakan-tindakan tersebut harus dilatih sehingga menjadi sebuah kebiasaan dan menjadi karakter.

5.      Insight dan Evaluasi

Latihan-latihan serta tindakan yang dilakukan akan kembali menimbulkan pemahaman baru dan segera dievaluasi untuk kita teruskan menjadi kebiasaan dan karakter kita.

 

Penutup.

            Aktivitas pengembangan diri merupakan sebuah kerja ibadah ketika ia diniatkan untuk mencari ridho Allah dan tidak melanggar aturan-Nya. Sehingga proses pengembangan diri kita adalah sebuah upaya untuk menuju menjadi manusia yang sempurna (Insan Kamil) yang diridhoi Allah SWT.

Wallahu ‘Alam.

 

 

 Diambil dari makalah pengembangan diri Trustco

 

Referensi:

 

1.      60 Cara Pengembangan Diri, Martha Mary McGaw, CSJ.

2.      Aku Mengembangkan Diriku, Robert E. Vailet.

3.      Model-Model Kepribadian Sehat, Duane Schultz.

4.      Madzhab Ketiga, Frank. G Goble.

5.      Perbarui Hidupmu, Muhammad Al Ghazali.

6.      Kiat Mengembangkan Diri, Mike Pedler dkk.

7.      Al Qur-an.

satu komentar tentang “Konsep Diri dan Pengembangannya”

  1. mafa_myquran berkata:

    asw. salam kenal,, afwan ana minta artikel antm coz ada tugas kul. af1 klw ana copy paste, tapi tenang z ana sertakn sumbrnya. jaz. smg bermanfaat…
    dr lampung

Arsip

KonsultanOnline.com
Jalan pemuda 3 No.5 Rawamangun Jakarta Timur
Phone 081310799994
Copyright © 2012