Home » kuliah » etos kerja muslim ; ihsan dan profesional

etos kerja muslim ; ihsan dan profesional

Apr
10
2008
by : mdianapriyanto . Posted in : kuliah, manajemen

muslimBerdasarkan makalah yang pernah saya baca ketika mengikuti pelatihan trustco, Kinerja dapat terlihat langsung dalam kehidupan sehari-hari sebagai profesional. Berdasarkan perbandingan kinerja dan kualifikasinya, seseorang dapat dikelompokkan ke dalam tiga katagori, yaitu:

1. Penggerak (Dynamo)

Seseorang bertindak seolah-oleh masih berada dalam posisi ditengah-tengah saat meniti karir (bukan saat melakukan pekerjaan) ke atas. Selalu punya rencana strategi personal yang terus dilakukan dan dipenuhi. Orang ini selalu bekerja untuk mempelajari sesuatu yang baru dan kontinyu mengasah kemampuan dan keahliannya.

2. Penjelajah (Cruisers)

Bekerja sasuai dengan kemampuan dan keahliannya, sehingga segbagai konsekuensinya jauh dari stres dan sangat menikmati kehidupan pekerjaannya. Sesekali penjelajah dapat pula mengerjakan sesuatu dengan baik meski sebenarnya tak terkait dengan kemampuan yang dimilikinya yang digunakannya dalam keseharian pekerjaan.

3. Pecundang (Losers)

Dalam dunia profesionalisme seseorang bisa dikatakan pecundang jika tidak mempunyai keahlian, meski hanya standar dasarnya.

Karakter professional menurut David H. Maister penulis True Professionalism :The Courage to Care About Your People, Your Client, and Your Career, 1997 mengatakan kesuksesan seorang profesional sesungguhnya memerlukan persayaratan – persyaratan:

1. Motivasi

2. Inisiatif

3. Komitmen

4. Keterlibatan langsung (dengan pekerjaan).

5. Antusias

Orang yang banyak mempunyai banyak amal akan mendapatkan banyak pahala. Agar amal mempunyai kualitas tinggi, maka kita harus mengetahui faktor atau kemampuan yang diperlukan untuk beramal. Faktor-faktor dan kemampuan yang diperlukan untuk memperoleh keberhasilan dalam beramal adalah sebagai berikut:

1. Kemampuan kita dalam membuat perencanaan, penempatan dan pengelolaan sumber daya. Kemampuan untuk melaksanakan rencana dan menilai hasil.

2. Kemampuan kita menghayati pekerjaan, sikap mental positif, penuh antusias dan penuh dengan penghayatan keimanan akan kebaikan amal yang sedang kita kerjakan.

3. Kemampuan kita dalam memutuskan. Mengambil keputusan dalam bekerja dengan cepat-tepat, apalagi kemampuan mengambil keputusan dalam kondisi penuh dengan tekanan psikologis (under presure) sangat diperlukan. Ingat dalam beramal salah keputusan dapat berakibat fatal.

4. Kemampuan dalam mengambil resiko sedang. Orang yang ingin beramal dan sukses, maka keberanian mengambil resiko adalah faktor yang sangat penting. Tidak ada kesuksesan spektakuler tanpa nilai resiko.

5. Kemampuan kita dalam menggunakan pengalaman. Hidup kita adalah pengalaman kita, tetapi jika kita tidak pandai mengambil pelajaran dari apa yang telah kita lihat, dengar, lakukan, maka pengalaman tersebut menjadi tidak bermakna. Kita harus belajar dari kesalahan dan kekalahan .

6. Kemampuan kita untuk membangun tanggung jawab pribadi. Bekerja atau malas, sukses atau gagal, semua itu sangat tergantung tumbuh atau tidaknya tanggng jawab yang kita bangun dalam diri kita.

7. Kemampuan kita dalam mencari dan menggunakan kesempatan (peluang). Kepekaan kita melihat peluang sangat diperlukan karena peluang hanya sesaat.

8. kemampuan kita bergaul dengan orang-orang yang lebih ahli. Bergaul disini bertujuan untuk mendapatkan informasi sehubungan dengan pekerjaan kita. Kita harus mendaptkan informasi yang terbaru dengan cepat, tepat dan akurat.

9. Kemampuan menghargai waktu. Waktu adalah sumber daya yang paling mahal, karena waktu tidak dapat didaur ulang. Kesempatan (waktu) hanya ada sekali dan tidak pernah terulang selamanya.

10. Kemampuan untuk bekerja dengan daya saing, mutu, informasi, kerja keras yang produktif dan efisien.

11. Dimilikinya keahlian khusus dan ketrampilan teknis merupakan sentral didalam mencapai keberhasilan suatu usaha atau amal. Tidak cukup teori, diskusi dan filosofi saja untuk mendapatkan hasil.

12. Kemampuan menghasilkan produk yang berkualitas sesuai dengan standard yang telah ditentukan dengan tingkat ketepatan (presisi) yang tinggi. Beberapa pekerjaan menghendaki SOP dan rendahnya tingkat apkir (reject).

13. Kemampuan untuk kreatif dan inovatif. Kebiasaan kita menyenanggi pekerjaan dengan banyak pilihan. Orang yang menyukai banyak pilihan mencirikan dia mempunyai potensi kreatif.

14. Dimilikinya sifat yang ulet dalam “ trial and error”. Diperlukan sifat tekun, sabar, gigih dan tidak mudah putus asa untuk mendapatkan kesuksesan,. Membiasakan diri bekerja dengan prinsip: small , continous and improvement

15. Kemampuan kita bekerja dalam tim (team work). Seringkali pekerjaan berskala sangat besar, maka kemampuan teamwork harus baik.

16. Faktor lain seperti: disiplin diri, menganggarakan uang dan waktu serta menjaga kesehatan diri.

IHSAN DAN PROFESIONAL

Ihsan mencakup 3 hal utama, yaitu:

  • Ikhlasun niyat ; dia melakaukan pekerjaan dengan motif yang bersif, murni karena Allah, ikhlas.
  • Itqanul amal; yaitu mereka rapi dalam bekerja
  • Jaudatul ada’; yaitu para professional melakukan dan menyelesaikan pekerjaan hingga tuntas.

Profesionalisme yang difahami kebanyakan orang berbeda dengan paradigma islam tentang profesionalisme. Dalam profesionalisme pada pemahaman umum tidak ada niat yang ikhlas, namun hanya bersandar pada 2 pin selanjutnya.

Kita berharap SDM mampu melakukan pekerjaan dengan penuh keyakinan mendalam (spiritual) atas setiap amalanya memiliki pahala dan mencari ridha Allah, bekerja dengan penuh tanggungjawab (emosional), sehingga staff melakukan seluruh pekerjaan dengana ada supervisi atau tanpa supervisi, bekerja dengan kaidah-kaidah sesuai dengan tuntutan profesi dan keilmuan (intelektual), mereka dapat menjalankan profesinya (sehat fisik), dan memiliki kemampuan manajemen diri untuk terus belajar mengembangakan keilmuan dan profesinya (penguasaan teknologi dan manajemen diri).

Dengan demikian profesionalisme akan lebih lengkap jika dia mencakup seluruh nilai ikhsan. SDM masa depan harus memiliki bekerja dengan penuh konsep TRUST , seorang muslim harus menjaga citra dirinya dengan trust, sehingga dapat memberikan kesan positif.

PROFESIONAL

Untuk menjadi professional, maka dituntut kemampuan mengembangkan seluruh potensi diri, sehingga menjadi sosok pribadi yang SALEH.

Untuk menjadi professional, maka dituntut kemampuan mengelola hubungan dengan orang lain sehingga menjadi PEMIMPIN

Sesungguhnya professional dalam pandangan kami adalah orang yang mampu memimpin dirinya sendiri, memimpin oran lain dan mempu menjalan fungsi kekhalifaahan secara utuh, mengelola seluruh potensi alam dengan baik, memiliki kemampuan manajerial potensi alam (sumber daya), mengolah, menghasilkan dan melakuakan produksi hingga mampu menjual kepada orang lain. Dalam arti kata, seorang professional sejati akan mampu mengelola LEMBAGA, jamaah atau organisasi hingga menjadikan dirinya sukses di dunia dan sukses di akherat.

4 komentar tentang “etos kerja muslim ; ihsan dan profesional”

  1. unduk berkata:

    Wah…, hebat. Berpoin-poin, sistematis, banyak, dan panjang. Jadi inget skrippsi.

  2. […] baca-baca dulu : Yang di sini, sini, sini dan […]

  3. adiemas berkata:

    alhamdulilah islam itu menenangkan

  4. […] semampu mungkin kita menjadi Muslim dan Muslimah yang Profesional yang hidup dan mencari bahan-bahan penunjang hidup (seperti uang, jabatan dan harta) sesuai […]

Arsip

KonsultanOnline.com
Jalan pemuda 3 No.5 Rawamangun Jakarta Timur
Phone 081310799994
Copyright © 2012